IQT Sebanyak empat mahasiswa Program Studi (Prodi)
Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengikuti kegiatan Yudisium Pascasarjana Universitas
Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang diselenggarakan pada Senin, 2
November 2026, bertempat di Ruang Promosi Doktor, Gedung Pascasarjana UIN
Alauddin Makassar.
Keempat mahasiswa tersebut adalah Dermawan, Sri Wahyuni,
Mirwan Sudarmawan Rifai, dan A. Putri Aunillah Filayati. Keikutsertaan mereka
dalam kegiatan yudisium menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan
akademik setelah menyelesaikan pendidikan pada jenjang magister.
Kegiatan yudisium dipandu langsung oleh Wakil Direktur
Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hasyim Haddade, M.Ag. Dalam
kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan dan motivasi kepada para lulusan
magister agar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga
mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam arahannya, Prof. Dr. Hasyim Haddade menegaskan bahwa
tantangan sesungguhnya bagi seorang lulusan magister justru dimulai setelah
meninggalkan bangku perkuliahan. Masyarakat akan menjadi ruang pengujian nyata
terhadap kompetensi, keilmuan, serta kemampuan para lulusan dalam menjawab
berbagai persoalan kehidupan.
“Ujian yang sebenarnya adalah ketika kamu dihadapkan oleh
para penguji (masyarakat) yang sesungguhnya. Di era di mana berbagai tantangan
dan dinamika perubahan zaman, pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan, dan
kau harus mampu menjawabnya dengan disiplin ilmu yang masing-masing kau
miliki,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para lulusan bahwa
gelar akademik bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung
jawab intelektual dan sosial. Para lulusan diharapkan mampu mengembangkan
keilmuan, memberikan kontribusi positif, serta menghadirkan solusi atas
berbagai persoalan di tengah masyarakat sesuai dengan bidang keahlian
masing-masing.
Keikutsertaan empat mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir dalam yudisium ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengamalkan dan
mengembangkan ilmu Al-Qur’an dan Tafsir secara lebih luas, baik dalam
lingkungan akademik maupun kehidupan sosial keagamaan.
Momentum yudisium ini sekaligus menjadi pengingat bahwa
keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari gelar yang diperoleh,
tetapi juga dari sejauh mana ilmu pengetahuan dapat memberikan manfaat bagi
umat, masyarakat, dan bangsa.