Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Resonansi Intelektual Global di UIN Alauddin Makassar: ICOSSIS 2025 Bedah Masa Depan Peradaban di Era Kecerdasan Buatan (AI)

Resonansi Intelektual Global di UIN Alauddin Makassar: ICOSSIS 2025 Bedah Masa Depan Peradaban di Era Kecerdasan Buatan (AI)

MAKASSAR – Pascasarjana UIN Alauddin Makassar kembali mengukuhkan posisinya sebagai pusat keunggulan akademik internasional dengan suksesnya penyelenggaraan The 3rd International Conference on Science and Islamic Studies (ICOSSIS) 2025. Perhelatan bergengsi ini menjadi panggung dialektika bagi para pakar dari Jerman, Inggris, Malaysia, Pakistan, hingga Indonesia untuk merumuskan integrasi sains dan nilai-nilai keislaman di tengah disrupsi teknologi global yang semakin masif.

Rangkaian acara diawali dengan laporan komprehensif dari Ketua Panitia, Dr. Hj. Raodah, S.KM., M.Kes., yang juga merupakan Ketua Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Dalam laporannya, Dr. Raodah menyampaikan bahwa ICOSSIS tahun ini menarik antusiasme luar biasa dari peneliti lintas benua, yang mempresentasikan riset mereka melalui sesi pleno dan sembilan ruang paralel digital. Sambutan hangat kemudian disampaikan oleh Direktur Pascasarjana UINAM, Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag., yang menekankan komitmen lembaga dalam melahirkan pemikiran-pemikiran integratif yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa menanggalkan identitas keislaman.

Konferensi internasional ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Kamaluddin Abunawas, M.Ag., yang hadir mewakili Rektor UIN Alauddin Makassar. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa universitas harus menjadi jembatan yang kokoh antara wahyu dan sains guna memberikan solusi atas problematika umat manusia. Visi besar ini diperkuat melalui Keynote Speech dari Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Sesditjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Arskal Salim, GP., M.Ag. Beliau memaparkan kebijakan strategis kementerian dalam mendorong transformasi digital di perguruan tinggi Islam yang tetap berpijak pada prinsip moderasi beragama dan etika kemanusiaan sebagai fondasi utama kemajuan teknologi.

Memasuki inti acara ilmiah, sesi pleno pertama dipandu secara lugas oleh Prof. Dr. Rika Parmitasari, S.E., M.Comm. sebagai Moderator Inti. Sesi ini menghadirkan tiga pakar yang membedah sisi fundamental hubungan manusia dengan teknologi. Pemateri pertama, Prof. Dr. Akram M. Zeki dari International Islamic University Malaysia (IIUM), memikat audiens dengan bahasan "AI and Human Wisdom". Beliau memberikan peringatan penting bahwa meskipun Artificial Intelligence memiliki kapasitas pengolahan data yang luar biasa, teknologi ini tetap hampa akan hikmah (kebijaksanaan). Menurut beliau, kendali moral dan keputusan etis harus tetap berada di tangan manusia sebagai subjek berakal yang bertanggung jawab secara spiritual.

Selanjutnya, Michael Wollrath, M.Sc. dari Martin Luther University Halle-Wittenberg, Jerman, membawa perspektif global mengenai pentingnya kolaborasi sains lintas batas. Ia menekankan bahwa tantangan lingkungan global saat ini memerlukan solusi ilmiah yang inklusif, di mana dialog antara tradisi keilmuan Barat dan Timur menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan bumi di masa depan. Menutup sesi pertama, Prof. Dr. Hasyim Haddade, M.Ag. dari UIN Alauddin Makassar membedah konsep Ekoteologi Al-Qur'an. Beliau menegaskan peran manusia sebagai Khalifah fil Ardh (penjaga bumi) yang memikul tanggung jawab moral untuk memastikan setiap inovasi teknologi tidak berujung pada kerusakan (fasad) di ekosistem Tuhan.

Sesi kedua berlanjut dengan dinamika yang semakin tajam di bawah panduan moderator Dr. Serliah Nur, S.Pd., M.Hum., M.Ed. Diskusi pada sesi ini lebih berfokus pada implementasi hukum Islam, bioetika, dan tantangan kesehatan masyarakat. Prof. Ayman Shihadeh dari SOAS University of London, UK, meninjau bagaimana hukum Islam merespons inovasi bioetika dan teknologi modern secara fleksibel namun tetap terukur sesuai kaidah syariah. Kemudian, pasangan peneliti dari Pakistan, Dr. Hassan Syakil, Ph.D. dan Syeda Adan Batul dari UMT Lahore, memukau audiens dengan model "Sustainable Civilization". Mereka mengusulkan penggunaan AI untuk mitigasi bencana banjir dan pertanian cerdas di negara berkembang yang diselaraskan dengan nilai-nilai keseimbangan (Mizan) dalam tradisi intelektual Islam.

Sebagai penutup sesi pleno, Dr. Nizam Bin Baharom dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) memberikan paparan provokatif mengenai "Epidemi Vape" di kalangan remaja. Beliau menyajikan data klinis neurosains yang menunjukkan bahwa nikotin mampu menghambat perkembangan saraf otak manusia yang baru matang sempurna pada usia 25 tahun. Berdasarkan prinsip Hifdzul ‘Aql (menjaga akal), beliau memperkenalkan solusi digital inovatif berupa AI Chatbot "Miss Era" sebagai asisten digital untuk membantu rehabilitasi pecandu rokok elektrik secara mandiri dan personal melalui pendekatan teknologi empati.

Konferensi internasional ini diakhiri dengan hilirisasi gagasan melalui sesi diskusi mendalam di ruang-ruang paralel. Puluhan dosen dan mahasiswa Pascasarjana mempresentasikan riset mereka di hadapan para penguji dan sejawat internasional untuk mempertajam kualitas penelitian. Diskusi teknis ini menjadi laboratorium intelektual yang diharapkan mampu menghasilkan luaran publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi.

Bagi masyarakat akademik maupun publik yang ingin menyaksikan kembali seluruh rangkaian paparan ilmiah dari para pakar dunia tersebut secara utuh, siaran ulang konferensi ICOSSIS 2025 dapat diakses melalui kanal YouTube Official UIN Alauddin Makassar pada tautan berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=xk65BByLn4A.

ICOSSIS 2025 bukan sekadar forum diskusi rutin, melainkan pernyataan sikap tegas Pascasarjana UIN Alauddin Makassar bahwa di tengah banjirnya teknologi kecerdasan buatan, nilai-nilai spiritualitas, kesehatan, dan kemanusiaan tetap harus menjadi nakhoda utama dalam membangun peradaban masa depan yang unggul dan berkelanjutan.