GOWA – Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali menggelar Ujian Promosi Doktor Konsentrasi Pendidikan dan Keguruan pada Selasa (18/8/2026). Ujian terbuka ini membedah riset disertasi mendalam mengenai peran lembaga pendidikan Islam dalam membentengi generasi muda dari gempuran narasi ekstremis di media digital.
Dalam sidang terbuka tersebut, promovendus Sudirman sukses mempertahankan disertasinya yang menganalisis secara fenomenologis strategi Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar dalam bertransformasi menjadi laboratorium kebangsaan dan penyemai nilai-nilai moderasi beragama.
Strategi Tiga Lapis Penyemaian Nilai Moderasi
Berdasarkan temuan riset, Pesantren An-Nahdlah menerapkan strategi pembentukan karakter santri yang terintegrasi melalui tiga lapisan utama:
Kurikulum Formal & Literasi Klasik: Pembelajaran kitab-kitab klasik (kitab kuning), Pendidikan Ke-Aswaja-an, serta Pancasila dan Kewarganegaraan diinternalisasikan melalui empat pilar utama: Tawassuth (sikap moderat/pertengahan), Tasamuh (toleransi), Tawazun (keseimbangan), dan I’tidal (keadilan moral).
Kegiatan Ekstrakurikuler: Penguatan mentalitas dan keterbukaan intelektual diasah melalui dialog interaktif, organisasi santri, serta pelibatan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Hidden Curriculum (Kurikulum Tersembunyi): Keteladanan harian para kiai, tradisi keilmuan yang terbuka, serta pembiasaan atmosfer penghormatan antar-sesama di lingkungan pesantren.
Dalam pemaparannya, Sudirman menegaskan bahwa pemahaman keagamaan yang moderat merupakan benteng utama dalam membentuk pola pikir santri yang kritis dan inklusif.
"Penguatan pemahaman keagamaan yang moderat menjadi fondasi utama dalam membangun pola pikir santri yang kritis dan terbuka. Dengan menyajikan ajaran yang seimbang, santri dibentuk untuk memiliki daya saring terhadap narasi-narasi radikal di luar sana," paparnya.
Pencegahan Proaktif di Era Digital dan Tantangan Ekosistem
Merespons arus radikalisasi yang kian masif melintasi ruang siber, riset ini merumuskan tiga langkah strategis pencegahan proaktif: bimbingan literasi digital dalam menyaring informasi keagamaan di media sosial, penguatan wawasan kebangsaan berbasis hubbul wathan minal iman, serta penjelas kerangka sanad keilmuan berbasis Ahlussunnah wal Jama'ah.
Penelitian ini juga memetakan dinamika pertarungan ideologi di lapangan. Faktor pendukung utama keberhasilan moderasi beragama terletak pada komitmen kepemimpinan kiai, lingkungan asrama yang kondusif, serta kurikulum yang adaptif. Sementara itu, tantangan yang dihadapi meliputi infiltrasi narasi ekstrem dari media luar, ketegangan sosial-politik, serta pemahaman agama yang sempit.
Hasil penelitian doktor ini diharapkan menjadi rujukan praktis bagi pengelola lembaga pendidikan keagamaan dalam merumuskan strategi penangkalan radikalisme digital berbasis kearifan lokal dan literasi klasik.
Dengan tuntasnya ujian terbuka ini, Dr. Sudirman resmi meraih gelar Doktor pada Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.