GOWA – Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali melahirkan doktor baru yang fokus pada penguatan karakter mahasiswa berbasis kearifan lokal. Penelitian ilmiah ini menghadirkan terobosan integrasi falsafah Bugis-Makassar dalam kurikulum perguruan tinggi sebagai benteng menghadapi gempuran arus budaya digital.
Ujian Promosi Doktor yang berlangsung khidmat pada Kamis (8/10/2026) di Ruang Sidang Pascasarjana UIN Alauddin Makassar ini dipimpin oleh Wakil Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. Hasyim Haddade, M.Ag. Di hadapan dewan penguji, promovenda Chece Djafar sukses mempertahankan disertasinya yang berjudul “Integrasi Nilai Siri' dalam Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia sebagai Upaya Penguatan Karakter Mahasiswa Di Universitas Cokroaminoto Palopo”.
Sidang terbuka ini dikawal oleh tim promotor yakni Prof. Dr. H. Syahruddin Usman, M.Pd. (Promotor), Dr. Syamsuddin, M.Pd.I. (Kopromotor I), dan Dr. Hj. Yuspiani, M.Pd. (Kopromotor II). Sementara dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Umar Sulaiman, M.Pd., Dr. Hj. Rahmiati, M.Pd., dan Dr. Syamhari, M.Pd.
Darurat Karakter Digital dan Paradoks Dimensi Siri’
Dalam pemaparannya, Dr. Chece Djafar menyoroti maraknya fenomena degradasi etika di kalangan mahasiswa akibat dominasi budaya digital yang tidak terfilter, serta belum terintegrasinya nilai-nilai lokal secara sistematis dalam kurikulum perguruan tinggi.
Riset studi kasus yang dilakukannya di Universitas Cokroaminoto Palopo (Maret–April 2026) mengungkapkan bahwa integrasi nilai siri' saat ini masih bersifat insidental dan sangat bergantung pada inisiatif pribadi pengajar.
"Dari tujuh dimensi nilai siri', baru dua dimensi yang berhasil terintegrasi secara optimal, yaitu dimensi lempu' (kejujuran) dan assitinajang (kepatutan/kepantasan). Sementara itu, terjadi paradoks pemahaman pada dimensi warani (keberanian), di mana mahasiswa kerap salah mengartikan keberanian dalam konteks yang negatif," jelas Dr. Chece Djafar.
Formulasi Karakter: Moral Knowing, Feeling, dan Action
Menganalisis fenomena tersebut melalui kerangka teori Thomas Lickona dan Lev Vygotsky, riset ini merumuskan strategi penguatan karakter berbasis tiga komponen utama:
Pengalaman Langsung (Moral Action): Melibatkan mahasiswa dalam analisis studi kasus nyata tentang harga diri dan integritas.
Penggerak Perasaan (Moral Feeling): Menumbuhkan kebanggaan mendalam terhadap identitas budaya lokal.
Keteladanan Dosen: Memosisikan dosen sebagai figur percontohan (role model) utama dari implementasi nilai siri'.
Tantangan Lapangan dan Rekomendasi Kebijakan
Meski terbukti mendongkrak kapasitas kognitif, afektif, hingga menjadikan mahasiswa sebagai agent of social change, penelitian ini mengidentifikasi sejumlah tantangan di lapangan. Di antaranya adalah penempatan mata kuliah MKWK yang sering ditaruh di semester akhir, tantangan budaya siber, stigma bahwa budaya lokal dianggap kuno, serta keterbatasan kapasitas dosen.
Atas temuan tersebut, Dr. Chece Djafar merekomendasikan perlunya kebijakan institusional yang tegas untuk merestrukturisasi kurikulum agar MKWK berbasis kearifan lokal wajib diberikan sejak awal semester.
Dengan capaian akademik ini, Dr. Chece Djafar resmi menyandang gelar Doktor dan gagasannya diharapkan menjadi rujukan bagi perguruan tinggi dalam menjadikan nilai budaya lokal sebagai benteng utama karakter generasi muda di era digital.