Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Transformasi Peran Pengawas Sekolah, Riset Doktor UIN Alauddin Makassar Petakan Penguatan Mutu Pendidikan Islam di Wajo

Transformasi Peran Pengawas Sekolah, Riset Doktor UIN Alauddin Makassar Petakan Penguatan Mutu Pendidikan Islam di Wajo

GOWA – Ruang Sidang Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar kembali melahirkan doktor baru di bidang Pendidikan Islam. Penelitian ilmiah yang diujikan dalam sidang terbuka pada Senin (7/9/2026) ini membedah transformasi mendasar fungsi pengawas sekolah dalam meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam (PAI).

Ujian Promosi Doktor yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin oleh Wakil Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hasyim Haddade, M.Ag. Di hadapan dewan sidang, promovenda Hj. Indo Uleng memukau dewan penguji saat mempertahan disertasinya yang berjudul “Peran Pengawas Sekolah dalam Penguatan Kualitas Penyelenggaraan Pendidikan Islam pada Satuan Pendidikan di Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo”.

Promosi doktor ini dikawal oleh tim promotor yakni Prof. Dr. H. A. Marjuni, M.Pd.I. (Promotor), Prof. Dr. Umar Sulaiman, M.Pd. (Kopromotor I), dan Dr. Hj. Yuspiani, M.Pd. (Kopromotor II). Adapun dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Syahruddin Usman, M.Pd., Dr. Rusdi T, M.Ag., dan Dr. Ahmad Afif, S.Ag., M.Si.


Transformasi 5 Pola Utama: Dari Kontrol Administratif ke Mitra Kolaboratif

Berdasarkan riset kualitatif deskriptif di Kabupaten Wajo, Dr. Hj. Indo Uleng mengungkap terjadinya pergeseran paradigma pengawasan sekolah dari sekadar pengawasan administratif formal menjadi pendampingan kolaboratif berorientasi pada kompetensi profesional guru.

Penelitian ini memetakan lima pola transformasi utama pengawas sekolah di Kecamatan Tanasitolo:

  1. Pergeseran Paradigma: Beralih dari pendampingan kontrol ketat menjadi pendampingan kolaboratif.

  2. Fokus Supervisi: Berpindah dari evaluasi dokumen administratif ke penguatan kompetensi profesional pendidik.

  3. Frekuensi Pendampingan: Berubah dari kunjungan sekali waktu (one-time visit) menjadi pendampingan bersiklus dan berkelanjutan.

  4. Orientasi Pembinaan: Bergeser dari aspek teknis semata ke arah pengembangan budaya Islam sekolah secara strategis.

  5. Pendekatan Lapangan: Berubah dari pendampingan umum menjadi pendampingan kontekstual berbasis kearifan lokal.

"Terjadi pergeseran paradigma yang signifikan. Peran pengawas sekolah kini bertransformasi dari yang dulunya sekadar pendampingan kontrol atau bersifat administratif, menjadi pendampingan kolaboratif dan fokus pada kompetensi profesional pendidik," urai Dr. Hj. Indo Uleng di hadapan dewan penguji.

Fungsi Multidimensi dan Rekomendasi Kebijakan

Riset ini menegaskan bahwa pada supervisi akademik, pengawas wajib memosisikan diri sebagai mitra pendidik, inovator, konsultan, konselor, hingga motivator. Sementara pada supervisi manajerial, pengawas dituntut menjadi kolaborator, negosiator perencanaan, asesor potensi sekolah, serta evaluator andal.

Implikasi empiris dari transformasi peran ini terbukti mendongkrak kompetensi pedagogik guru PAI, meningkatkan hasil belajar siswa, memperbaiki perencanaan sekolah, serta memperkuat integrasi nilai-nilai Islam dalam budaya sekolah sehari-hari.

Atas temuan tersebut, Dr. Hj. Indo Uleng merekomendasikan perlunya redesain sistemik terhadap kebijakan pengawasan sekolah nasional agar lebih partisipatif, kontekstual, dan memosisikan pengawas sebagai rekan strategis satuan pendidikan.

Dengan capaian memuaskan ini, Dr. Hj. Indo Uleng, M.Pd. resmi meraih gelar Doktor pada Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan diharapkan memberi kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan Islam di Sulawesi Selatan.